TarbiyahPost.Com | JSCgroupmedia ~ Kegiatan reses anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Rudianto Tjen, di Kecamatan Gantung, Jumat (8/5/2026), berubah menjadi ruang curhat terbuka masyarakat.

Berbagai persoalan strategis mencuat dalam dialog bersama warga, mulai dari kondisi pertanian, kerusakan infrastruktur jalan, hingga stagnasi harga timah yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat bawah meski harga komoditas dunia mengalami kenaikan.

Suasana pertemuan berlangsung hangat namun penuh harapan. Warga memanfaatkan momentum reses tersebut untuk menyampaikan langsung keresahan yang selama ini mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat berharap aspirasi mereka tidak sekadar didengar, tetapi benar-benar diperjuangkan hingga ke tingkat pusat.

Dalam sambutannya, Rudianto Tjen menegaskan bahwa dirinya sengaja turun langsung ke tingkat kecamatan agar dapat memahami persoalan masyarakat secara nyata, bukan hanya melalui laporan administratif semata.

“Hari ini luar biasa, kita bisa hadir di Kecamatan Gantung dan bertemu langsung dengan masyarakat. Banyak aspirasi yang disampaikan dan ini akan kami bawa ke Jakarta untuk didiskusikan dengan komisi terkait,” ujar Rudianto Tjen di hadapan warga.

Pernyataan tersebut langsung disambut antusias masyarakat yang hadir. Sebagian warga mengaku senang karena masih ada wakil rakyat yang mau datang langsung mendengar suara masyarakat di tingkat bawah.

Harga Timah Dunia Naik, Warga Mengaku Belum Menikmati Dampaknya

Salah satu isu paling dominan dalam dialog tersebut ialah soal harga timah. Warga mempertanyakan mengapa harga beli timah di tingkat masyarakat masih relatif rendah, padahal harga timah dunia disebut mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Sebagai daerah yang selama puluhan tahun menggantungkan denyut ekonomi pada sektor pertambangan, fluktuasi harga timah memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat di Belitung Timur.

Ketika harga dunia naik, masyarakat berharap kesejahteraan ikut meningkat. Namun kenyataan di lapangan dinilai belum sejalan dengan harapan tersebut.

See also  Desak Pemerintah Benahi Krisis Pendidikan, KAMMI Soroti Fasilitas Sekolah & Nasib Guru

Beberapa warga menyampaikan bahwa kondisi ekonomi masyarakat tambang masih cukup berat. Harga kebutuhan pokok meningkat, sementara pendapatan masyarakat belum menunjukkan perubahan signifikan.

“Kalau harga dunia naik, seharusnya masyarakat kecil juga ikut merasakan dampaknya. Tapi yang terjadi sekarang belum begitu,” ungkap salah satu warga saat sesi dialog berlangsung.

Kondisi itu memunculkan kekhawatiran tersendiri di tengah masyarakat tambang. Mereka berharap ada kebijakan yang mampu menciptakan keseimbangan harga sehingga manfaat kenaikan komoditas global dapat dirasakan hingga ke tingkat bawah.

Persoalan tata niaga timah juga menjadi perhatian masyarakat. Sejumlah warga berharap pemerintah dapat memperbaiki sistem distribusi dan pengawasan agar harga di tingkat penambang rakyat lebih stabil dan adil.

Pertanian Dinilai Jadi Harapan Baru Ekonomi Bangka Belitung

Selain persoalan tambang, sektor pertanian juga menjadi topik yang paling banyak disampaikan masyarakat.

Warga menilai Bangka Belitung masih memiliki lahan luas yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung ketahanan pangan maupun peningkatan ekonomi masyarakat.

Menurut warga, ketergantungan terhadap sektor tambang membuat ekonomi daerah menjadi sangat rentan. Ketika harga timah turun, dampaknya langsung dirasakan masyarakat secara luas.

Karena itu, penguatan sektor pertanian dianggap penting sebagai alternatif ekonomi jangka panjang.

Menanggapi hal tersebut, Rudianto Tjen mengatakan Bangka Belitung sebenarnya memiliki potensi pertanian yang besar apabila tata kelola lahannya dilakukan secara tepat dan berpihak kepada masyarakat.

“Kalau kita lihat, lahan pertanian di Bangka Belitung ini sebenarnya masih sangat luas.

Kemudian masih ada hutan produksi dan hutan lindung yang menurut saya perlu dievaluasi secara berkala agar sebagian bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menambah lahan pertanian,” katanya.

Pernyataan tersebut memantik perhatian masyarakat yang selama ini berharap adanya perluasan akses lahan produktif. Namun demikian, isu pemanfaatan kawasan hutan juga dinilai harus tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

See also  Membuat Website Tidaklah Sulit, Hanya Butuh Konsistensi dan Semangat Belajar

Di tengah perubahan iklim dan ancaman kerusakan ekologis, masyarakat berharap pembangunan sektor pertanian dilakukan secara bijak tanpa mengorbankan kelestarian alam.

Belitung Timur sendiri dalam beberapa tahun terakhir mulai mendorong diversifikasi ekonomi melalui sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap timah.

Infrastruktur Jalan Masih Menjadi Keluhan Klasik

Selain sektor ekonomi, masyarakat juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius.

Beberapa ruas jalan disebut mengalami kerusakan sehingga menghambat aktivitas masyarakat, terutama distribusi hasil pertanian dan mobilitas warga desa.

Bagi masyarakat pedesaan, jalan bukan sekadar fasilitas transportasi, tetapi menjadi urat nadi ekonomi. Jalan yang rusak membuat biaya distribusi meningkat dan memperlambat aktivitas usaha masyarakat.

Warga berharap pembangunan infrastruktur tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau desa-desa yang menjadi basis pertumbuhan ekonomi rakyat.

Dalam dialog tersebut, masyarakat meminta agar pemerintah pusat dan daerah mempercepat pembangunan jalan serta meningkatkan kualitas infrastruktur dasar lainnya.

Rudianto Tjen menyebut seluruh aspirasi tersebut akan menjadi catatan penting yang akan dibawa ke tingkat pusat untuk diperjuangkan bersama kementerian terkait.

Reses Jadi Ruang Komunikasi Langsung dengan Rakyat

Kegiatan reses kali ini menunjukkan betapa pentingnya komunikasi langsung antara wakil rakyat dan masyarakat. Di tengah derasnya dinamika politik nasional, masyarakat di daerah tetap berharap persoalan mereka mendapat perhatian nyata.

Model dialog terbuka seperti ini dinilai mampu memperpendek jarak antara masyarakat dan pengambil kebijakan. Warga dapat menyampaikan persoalan secara langsung tanpa harus melewati prosedur birokrasi yang panjang.

Dalam suasana penuh keterbukaan itu, terlihat masyarakat tidak sekadar datang untuk mendengarkan pidato politik. Mereka aktif menyampaikan kritik, masukan, hingga harapan terhadap masa depan daerah.

Rudianto Tjen menegaskan bahwa reses bukan sekadar agenda formal tahunan, tetapi bagian dari tanggung jawab moral seorang wakil rakyat untuk hadir di tengah masyarakat.

See also  Kapan Waktu Yang Tepat Membuat Website Untuk Kebutuhan Bisnis?

Bangka Belitung Perlu Transformasi Ekonomi yang Lebih Kuat

Pengamat ekonomi lokal menilai berbagai aspirasi yang muncul dalam reses tersebut mencerminkan tantangan besar yang sedang dihadapi Bangka Belitung. Ketergantungan terhadap komoditas tambang dinilai membuat ekonomi daerah sangat mudah terguncang.

Karena itu, transformasi ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Sektor pertanian, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif perlu diperkuat agar masyarakat memiliki lebih banyak sumber penghasilan.

Belitung Timur dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan pertanian terpadu dan wisata berbasis alam.

Namun pengembangan tersebut membutuhkan dukungan infrastruktur, kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor.

Masyarakat berharap aspirasi yang mereka sampaikan tidak hanya menjadi bahan diskusi politik, tetapi benar-benar ditindaklanjuti dalam bentuk program konkret.

Aspirasi Akan Dibawa ke Jakarta

Menutup kegiatan reses, Rudianto Tjen kembali menegaskan komitmennya untuk membawa seluruh aspirasi masyarakat ke tingkat pusat agar dapat dibahas bersama kementerian maupun komisi terkait di DPR RI.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPR, serta masyarakat agar persoalan yang ada dapat diselesaikan secara bertahap dan berkelanjutan.

“Kita ingin masyarakat benar-benar merasakan pembangunan. Semua aspirasi yang disampaikan hari ini menjadi catatan penting bagi kami,” ujarnya.

Reses di Kecamatan Gantung itu akhirnya tidak hanya menjadi agenda politik rutin, tetapi juga cermin dari berbagai tantangan yang sedang dihadapi masyarakat Bangka Belitung.

Dari harga timah, persoalan lahan pertanian, hingga infrastruktur jalan, semuanya menggambarkan satu harapan besar masyarakat: pembangunan yang benar-benar berpihak kepada rakyat.

Di tengah dinamika ekonomi global dan perubahan arah pembangunan nasional, suara masyarakat dari daerah seperti Gantung menjadi pengingat bahwa pembangunan sejati harus dimulai dari mendengar kebutuhan rakyat di akar rumput. | TarbiyahPost.Com | */Redaksi | *** |