TarbiyahPost.Com | JSCgroupmedia ~ Kawasan nelayan di Desa Tanjung Binga, Kecamatan Tanjungpandan, Kamis (7/5/2026) malam, tampak lebih ramai dari biasanya.

Ratusan warga memadati halaman rumah Iwan Saputra dalam agenda reses anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Rudianto Tjen.

Di tengah suasana sederhana khas kampung pesisir, dialog antara wakil rakyat dan masyarakat berlangsung hangat.

Tidak hanya menjadi agenda politik formal, kegiatan tersebut berubah menjadi ruang terbuka bagi warga nelayan untuk menyampaikan harapan, keresahan, hingga persoalan ekonomi yang mereka rasakan belakangan ini.

Turut hadir dalam kegiatan itu sejumlah tokoh politik dan pejabat daerah, di antaranya Vina Cristyn Ferani, Wahyudi Wirayudha, Mastoni, Taufik Rizani, Imam Wahyudi, serta Bahar Buasan.

Kampung Nelayan yang Tetap Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi

Dalam wawancara bersama wartawan, Rudianto Tjen mengaku senang bisa hadir langsung di kawasan nelayan dan bertemu masyarakat secara lebih dekat, terutama para ibu rumah tangga yang hadir memenuhi lokasi kegiatan.

“Hari ini saya sangat senang saya bisa datang di daerah nelayan seperti ini, kita bisa jumpa dengan ibu-ibunya, karena bapak-bapaknya itu luar biasa, hari ini semua melaut karena cari nafkah, tetapi ibu-ibunya semuanya sempat hadir di sini.

Saya terimakasih kepada warga Tanjung Binga yang bersedia hadir di acara reses kita ini,” ujarnya.

Ucapan tersebut disambut tepuk tangan warga yang hadir. Bagi masyarakat pesisir, kehadiran wakil rakyat secara langsung menjadi bentuk perhatian yang jarang mereka rasakan di tengah kesibukan mencari nafkah sebagai nelayan.

Tanjung Binga sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan nelayan terbesar di Belitung.

Aktivitas masyarakat sebagian besar bergantung pada hasil laut, mulai dari penangkapan ikan, budidaya hasil perikanan, hingga usaha pengolahan makanan laut skala rumah tangga.

See also  Penembakan Warga Sipil, Aparat Kejar Pelaku Diduga KKB Kodap XVI

Namun seperti daerah pesisir lainnya, masyarakat Tanjung Binga juga tidak lepas dari tekanan ekonomi akibat naik-turunnya harga BBM, cuaca ekstrem, hingga ketidakpastian harga hasil tangkapan laut.

Subsidi Solar Nelayan Dipastikan Tetap Dipertahankan

Salah satu poin penting yang disampaikan Rudianto Tjen dalam reses tersebut ialah soal keberhasilan DPR RI mempertahankan subsidi bagi nelayan dan petani, terutama subsidi BBM solar untuk nelayan.

Rudianto Tjen Temui Warga Tanjung Binga, Subsidi Nelayan Dipertahankan dan Jalan Rusak Jadi Sorotan

Menurutnya, keputusan mempertahankan subsidi menjadi kabar baik bagi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada bahan bakar untuk melaut.

“Di DPR RI kita berhasil meyakinkan pemerintah untuk memberikan subsidi, terutama kepada petani jangan sampai dicabut, untuk nelayan yang butuh solar itu jangan dicabut, dan pemerintah yakin dan mempertahankan subsidi walaupun harga BBM itu harusnya sudah naik 2 atau 3 kali lipat.

Dan kabar baik untuk nelayan kita dan teman-teman kita di pertanian,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat nelayan. Sebab dalam beberapa tahun terakhir, isu pengurangan subsidi BBM selalu memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat kecil.

Bagi nelayan tradisional, kenaikan harga solar dapat berdampak langsung terhadap biaya operasional melaut. Jika biaya bahan bakar naik, sementara harga ikan tidak stabil, maka pendapatan masyarakat otomatis akan tertekan.

Karena itu, kebijakan mempertahankan subsidi dinilai sangat penting untuk menjaga daya tahan ekonomi masyarakat pesisir.

Belitung Dinilai Masih Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi Nasional

Dalam kesempatan itu, Rudianto Tjen juga menyinggung kondisi ekonomi nasional yang disebut sedang menghadapi tekanan cukup berat.

Meski demikian, ia menilai beberapa wilayah di Belitung masih mampu bertahan karena ditopang sektor perikanan dan perkebunan.

See also  Misteri Kapal Tanpa Awak di Karang Kering ; Detik-Detik Harapan & Perjuangan Tim SAR

“Walau di daerah Mentigi itu saat ini masyarakat di sana malah sedang panen raya. Lagi sejahtera-sejahteranya, lagi banyak penghasilan, panen kepiting, panen ikan, sawit pun harga tinggi dan sebagainya.

Jadi problem yang ada di Pulau Jawa itu tidak terlalu terasa di Belitung ini,” ucapnya.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa ekonomi masyarakat Belitung memiliki karakter yang berbeda dibanding daerah perkotaan besar di Pulau Jawa.

Ketika sektor industri dan manufaktur mengalami tekanan, masyarakat Belitung masih bisa bertahan melalui sumber daya alam dan sektor pangan.

Namun demikian, kondisi tersebut tetap membutuhkan perhatian serius agar tidak menimbulkan kesenjangan baru antarwilayah maupun antar kelompok masyarakat.

Efisiensi Anggaran Dinilai Membebani Daerah

Selain membahas ekonomi masyarakat nelayan, Rudianto Tjen juga menyoroti dampak kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat terhadap kondisi daerah.

Menurutnya, banyak pemerintah kabupaten dan provinsi saat ini menghadapi keterbatasan anggaran yang cukup berat. Bahkan sebagian besar anggaran daerah disebut hanya cukup untuk membayar gaji pegawai dan operasional rutin.

Akibatnya, sejumlah proyek pembangunan infrastruktur terpaksa ditunda atau berjalan sangat lambat.

“Jadi proyek-proyek itu sebenarnya hampir tidak ada.

Sampai perbaikan jalan pun dihemat sedemikian rupa dan sekarang kita cukup prihatin bahwa jalan-jalan di tingkat kabupaten, provinsi sekarang ini sudah mulai berlubang, sudah mulai rusak-rusakan, tidak mulus seperti apa yang kita bayangkan 2 tahun atau 3 tahun yang lalu,” ujarnya.

Kondisi infrastruktur jalan memang mulai menjadi keluhan masyarakat di berbagai wilayah Bangka Belitung.

Kerusakan jalan dinilai berdampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat, terutama distribusi hasil laut, perkebunan, dan mobilitas antarwilayah.

Masyarakat berharap pemerintah pusat dapat memberikan ruang fiskal yang lebih besar kepada daerah agar pembangunan tidak terhambat.

Dorong Anggaran Lebih Banyak Dikembalikan ke Daerah

See also  Dari Batu Penyok ke Batu Penyu ; Desa Pesisir yang Bangkit Jadi Harapan Ekonomi

Rudianto Tjen menilai efisiensi anggaran sebaiknya lebih difokuskan pada program-program pusat yang tidak bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Sementara anggaran yang memiliki dampak langsung terhadap kebutuhan rakyat dinilai perlu diperkuat di tingkat daerah.

“Yang tidak terlalu menyentuh kepada masyarakat secara langsung itu kalau bisa dipusatnya di efisiensi dan kembalikan kepada daerah-daerah, supaya daerah-daerah itu bisa melakukan program-program yang menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung,” katanya.

Pernyataan tersebut dinilai sejalan dengan harapan banyak pemerintah daerah yang selama ini menginginkan fleksibilitas anggaran lebih besar untuk pembangunan lokal.

Di tengah tantangan ekonomi global, daerah membutuhkan dukungan anggaran yang memadai agar pelayanan publik dan pembangunan infrastruktur tetap berjalan.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang Hadapi Situasi Global

Menutup kegiatan reses, Rudianto Tjen mengajak masyarakat untuk tetap tenang menghadapi dinamika global, termasuk dampak konflik di Timur Tengah yang memengaruhi harga minyak dunia.

Ia berharap pemerintah tetap mampu mempertahankan subsidi sehingga masyarakat kecil tidak terlalu terbebani oleh gejolak ekonomi internasional.

“Jadi masyarakat harap tenang, walaupun kondisi perang di Timur Tengah harga minyak sebenarnya naik tinggi, tetapi mudah-mudahan kita masih tetap mempertahankan subsidi dan masyarakat tetap bisa hidup tenang, bahagia bersama kita semua,” tutupnya.

Pernyataan itu menjadi penutup dari malam reses yang berlangsung penuh dialog dan aspirasi masyarakat.

Bagi warga Tanjung Binga, kehadiran wakil rakyat di tengah kampung nelayan bukan sekadar agenda politik, tetapi menjadi simbol bahwa suara masyarakat pesisir masih didengar.

Reses tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, masyarakat daerah tetap membutuhkan satu hal paling mendasar: kehadiran negara yang benar-benar berpihak kepada rakyat kecil. | TarbiyahPost.Com | */Redaksi | *** |