TarbiyahPost.Com | JSCgroupmedia ~ Kuliner tradisional khas Bangka Belitung kembali mendapat perhatian publik setelah Nana Silvana Murry Miranda, istri Wakapolda Kepulauan Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Miranda, membagikan cerita hangat tentang lempah kuning, makanan khas daerah yang dikenal kaya rempah dan memiliki cita rasa segar.

Melalui pesannya yang disampaikan di Pangkalpinang pada Mei 2026, Nana mengajak masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Bangka Belitung untuk tidak melewatkan pengalaman menikmati lempah kuning, kuliner tradisional yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Melayu pesisir di Negeri Serumpun Sebalai.

“Semangkuk lempah kuning, sepiring cerita dari tanah Bangka Belitung. Kuah kuning yang segar, ikan yang lembut, dan rempah yang bikin rindu di setiap suapan,” ujar Nana Silvana Murry Miranda.

Tidak hanya memperkenalkan lempah kuning sebagai makanan tradisional, Nana juga menyoroti perkembangan kuliner tersebut yang kini semakin beragam dan inovatif.

Menurutnya, lempah kuning saat ini tidak hanya berbahan dasar ikan laut, tetapi sudah berkembang menggunakan berbagai jenis bahan lain seperti cumi, udang, daging sapi, iga, hingga ayam.

“Nah sekarang lempah kuning itu sudah banyak variasinya. Ada cumi, udang, daging, iga, bahkan ayam. Pokoknya kalau ke Bangka jangan lupa makan lempah kuning ya,” katanya.

Pernyataan itu sontak mendapat respons positif dari masyarakat Bangka Belitung, terutama pelaku usaha kuliner dan pecinta makanan tradisional.

Lempah kuning memang bukan sekadar hidangan biasa bagi masyarakat Babel. Makanan ini telah lama menjadi simbol identitas budaya sekaligus warisan kuliner yang diwariskan turun-temurun.

Di berbagai daerah di Bangka Belitung, lempah kuning hampir selalu hadir dalam acara keluarga, jamuan tamu, hingga tradisi adat masyarakat Melayu.

Kuahnya yang berwarna kuning berasal dari campuran kunyit dan rempah-rempah pilihan, dipadukan dengan rasa asam segar dari nanas atau asam sunti yang menjadi ciri khas utama.

See also  Apel Pagi Kejari Belitung, Menyalakan Api Integritas Aparatur

Selain terkenal karena cita rasanya, lempah kuning juga dianggap sebagai representasi kehidupan masyarakat pesisir Bangka Belitung yang sangat dekat dengan hasil laut.

Karena itu, bahan utama lempah kuning sejak dulu identik dengan ikan segar hasil tangkapan nelayan.

Namun seiring perkembangan zaman, kreativitas masyarakat membuat hidangan ini mengalami berbagai inovasi tanpa menghilangkan karakter aslinya.

Kini banyak rumah makan dan pelaku UMKM kuliner menghadirkan lempah kuning dengan variasi baru agar lebih diminati berbagai kalangan.

Pelaku usaha kuliner di Pangkalpinang mengaku promosi terhadap makanan khas daerah sangat penting untuk mendukung sektor pariwisata Bangka Belitung.

Menurut mereka, wisata kuliner kini menjadi salah satu daya tarik utama bagi wisatawan yang datang ke daerah.

“Banyak wisatawan penasaran dengan lempah kuning karena memang rasanya unik. Kuahnya segar, rempahnya kuat, tapi tetap cocok di lidah banyak orang,” ujar seorang pemilik rumah makan khas Melayu di Pangkalpinang.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung juga terus mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal, termasuk sektor kuliner tradisional.

Lempah kuning menjadi salah satu ikon yang sering dipromosikan dalam berbagai festival pariwisata dan kegiatan budaya.

Bahkan, makanan khas ini mulai dikenal lebih luas di tingkat nasional setelah sering diperkenalkan dalam agenda promosi daerah, baik melalui festival kuliner maupun media sosial.

Kehadiran tokoh publik yang ikut memperkenalkan makanan khas daerah dinilai memberikan dampak positif terhadap popularitas kuliner lokal.

Pengamat budaya Melayu Bangka Belitung menilai lempah kuning bukan hanya soal rasa, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat pesisir yang sarat nilai sejarah dan kebersamaan.

“Kalau bicara lempah kuning, kita sebenarnya sedang bicara tentang budaya Melayu Bangka Belitung. Ada sejarah maritim, tradisi keluarga, dan kebiasaan masyarakat yang tercermin dari makanan itu,” katanya.

See also  Viral Semangkuk Kontroversi ; Ketika Halal, Media Sosial & Etika Bertabrakan

Menurutnya, makanan tradisional sering kali menjadi pintu masuk untuk mengenalkan budaya daerah kepada masyarakat luar. Karena itu, menjaga eksistensi kuliner lokal sama pentingnya dengan menjaga tradisi dan bahasa daerah.

Lempah kuning sendiri dikenal memiliki cita rasa khas perpaduan gurih, asam, dan pedas yang seimbang.

Bumbu utamanya terdiri dari kunyit, bawang merah, bawang putih, cabai, terasi, dan berbagai rempah lain yang dihaluskan sebelum dimasak bersama bahan utama.

Di beberapa daerah di Bangka Belitung, masyarakat juga memiliki resep khas masing-masing yang diwariskan secara turun-temurun. Ada yang menggunakan nanas untuk memperkuat rasa asam segar, ada pula yang memakai asam sunti khas Melayu.

Keunikan itulah yang membuat lempah kuning sulit dipisahkan dari identitas masyarakat Bangka Belitung. Banyak perantau asal Babel mengaku selalu merindukan makanan tersebut ketika berada di luar daerah.

Tidak sedikit pula wisatawan yang sengaja mencari rumah makan khas lempah kuning saat berkunjung ke Bangka maupun Belitung. Kuliner ini bahkan mulai masuk dalam daftar rekomendasi wisata gastronomi Indonesia karena kekayaan rasa dan nilai budayanya.

Selain sebagai sajian keluarga, lempah kuning juga sering hadir dalam berbagai kegiatan sosial masyarakat. Hidangan ini biasa disajikan saat acara syukuran, pertemuan adat, hingga jamuan tamu penting.

Bagi masyarakat lokal, makan lempah kuning bersama keluarga memiliki makna kebersamaan yang kuat. Karena itu, promosi kuliner tradisional dianggap bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menjaga ikatan sosial dan budaya masyarakat.

Dalam konteks pariwisata, Bangka Belitung memang tidak hanya dikenal karena pantai dan batu granitnya. Daerah ini juga memiliki kekayaan kuliner yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain lempah kuning, Bangka Belitung juga dikenal dengan berbagai makanan khas seperti otak-otak, mie Bangka, rusip, hingga kemplang. Namun lempah kuning tetap menjadi salah satu ikon utama yang paling sering dicari wisatawan.

See also  Gaji Guru Harus Setara di Atas UMR, Hapus Ketimpangan Kesejahteraan Guru

Ajakan Nana Silvana Murry Miranda untuk menikmati lempah kuning dinilai menjadi bentuk dukungan positif terhadap pelestarian budaya lokal dan promosi pariwisata daerah.

Di era digital saat ini, promosi sederhana melalui cerita dan pengalaman pribadi sering kali lebih mudah diterima masyarakat.

Apalagi makanan memiliki kekuatan emosional yang mampu menghubungkan orang dengan kenangan dan identitas budaya.

Itulah sebabnya banyak daerah di Indonesia kini mulai serius mengembangkan wisata kuliner sebagai bagian penting dari promosi pariwisata.

Bangka Belitung sendiri memiliki potensi besar dalam sektor tersebut. Kekayaan hasil laut, keberagaman rempah, serta tradisi memasak masyarakat Melayu menjadi modal kuat untuk memperkenalkan kuliner daerah ke tingkat nasional bahkan internasional.

Di tengah perkembangan kuliner modern yang semakin cepat, keberadaan makanan tradisional seperti lempah kuning menjadi pengingat bahwa cita rasa lokal tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Semangkuk lempah kuning bukan hanya soal makanan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang laut, keluarga, tradisi, dan perjalanan panjang budaya Melayu Bangka Belitung yang terus hidup hingga hari ini.

Karena itu, ketika wisatawan datang ke Negeri Serumpun Sebalai, menikmati lempah kuning sejatinya bukan sekadar mencicipi hidangan khas, melainkan ikut merasakan sepotong identitas dan sejarah masyarakat Bangka Belitung yang kaya rasa dan penuh cerita. | TarbiyahPost.Com | */Redaksi | *** |